Now Playing Tracks

We Need to Stop

Pernah saya mengikuti kelas parenting. Lebih tepatnya sesi singkat parenting. Belajar bagaimana menyikapi tingkah laku anak. Mulai dari mereka yang tak bisa berhenti bermain hingga tingkah laku lainnya yang kerap membuatnya disebut si anak nakal.

Saya yang single ikut sesi parenting ini pun sedikit kagok. Tapi, berhubung jadi yang empu nya tempat saya pun bertahan. Toh, ilmu parenting ini tidak harus serta merta jadi orang tua dulu kan. Semua yang lebih tua daripada anak balita rasanya perlu dapat ilmu parenting.

Yang buat saya sadar waktu itu adalah bagaimana kita perlu berbicara dengan si anak. Dibanding dengan kata-kata, visual alias gambar lebih mudah ditangkap oleh anak-anak. Wajar bila akhirnya pembelajaran dengan gambar lebih disukai oleh anak-anak. Simpelnya bisa dilihat saat pelajaran berhitung. Tak sedikit guru yang mewakilinya dengan mengubahnya menjadi gambar. Pembagian bisa diwakili dengan gambar kue bulat yang dipotong beberapa bagian.

Dari sesi ini juga saya juga sadar, kenapa banyak anak yang dilarang dengan melontarkan ucapan “jangan” seringkali malah membuat si anak meneruskan perbuatannya. Kata sesi itu, ucapan jangan tidak memiliki visualisasi. Berbeda kalau Anda menyebut kata stop.

Stop punya visualnya. Yes, bulatan merah dengan tanda strip putih. Itulah stop. Mengganti kata jangan dengan kata stop ditambah lagi dengan penekanan intonasi, maka si kecil akan jauh lebih mengerti. Tapi, menurut saya percuma juga kalau anak sama sekali tidak belum dikenalkan dengan visualnya si stop.

Darisana saya pun akhirnya mulai berkata pada benak sendiri. Mungkin harus benar-benar keras untuk menghentikan kebiasaan jelek dengan menampilkan visual stop. Tiada lagi kata “Jangan” yang ada hanyalah “Stop”.

Stop untuk menyalahkan seseorang yang sama sekali tak tahu apa-apa

Stop untuk tidak menjadikan kondisi ini lebih buruk

Stop untuk berpura-pura semua baik-baik saja padahal sebaliknya

Stop untuk hal-hal lainnya yang memang harus dihentikan

Dan memang kata stop jauh lebih ampuh dan menekan saya. We need to stop when it’s the right time. Term and condition apply. But don’t stop to believe that Allah stay with us. :)

Satu Jam

Satu jam. Enam puluh menit. 3600 detik.

Menghitung detik akan terasa lebih lama dibanding melihat angka berjalan didepan frase jam.

Kuantitas apa yang didapat dalam satu jam. Mungkin kuantitas tak sebanding dengan kualitas. Tapi, kadang kualitas juga bisa terkejar dengan kuantitas.

Satu jam. Pinjamkan aku logika yang banyak. Bahkan yang harus melebihi waktu ini.

Aku Takut Aku yang Kelelahan

Lelah untuk melanjutkan yang terputus. Lelah untuk mengulang kembali dari awal.

Lelah untuk berlari kencang. Lelah untuk menentukan mana yang harus diambil dan diikhlaskan.

Lelah untuk merasa hilang. Lelah untuk mendefinisikan tanda yang absurd.

Lelah. Lelah,

Dan pada siapa aku mengadu ketakutan akan kelelahan yang tak berujung

Ku senang bila diajak bila diajak berlari kencang

Tapi aku takut kamu kelelahan

Ku tak masalah bila terkena hujan

Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa

(Tulus - Sepatu)

ruang tengah - Surabaya - setengah jam jelang minggu, 9 Maret 2014

Koin Logika

Dan aku benar-benar tertahan. Semua realita menjadi tak masuk akal,

Harus ditaruh dimana lagi perasaan ini. Semuanya jadi kalah.

Rasanya perlu dilihat lagi, koin logika yang pernah kau titipkan padaku.

Aku mencarinya. Koin yang harusnya mampu mengimbangi lembaran perasaan yang terlanjur larut dalam arus realita.

Terlalu banyak perasaan yang dilibatkan.

Dan pinjamkan aku koin logika mu. Sekali lagi.

Berkali-kali pun aku mohon.

Perhitungan koin logika mungkin akan terasa datar. Tapi itu lebih baik. Hancur seketika setelah runtuh semua perasaan yang terlalu merajai ini.

Berdiri kuat menebar koin itu tanpa perlu tahu perasaan apapun yang akan terselip. Dan hanya pada kesempatan ini aku memohon.

Ada yang bilang padaku, mereka yang dewasa dalam hidupnya memilki koin logika tak hanya satu.

Muak dengan perasaan, dimana harusnya logika yang menggelinding.

Delete Permanently

Buanglah sampah pada tempatnya. Pastikan sampah yang dibuang memang patut dibuang.

Susah sebenarnya menentukan barang itu sampah atau bukan. Nyatanya banyak orang yang akhirnya memperoleh rejekinya dari barang yang semula dikira tak bernilai itu.

Sampah bisa jadi uang.

Tapi, kadang waktu dan situasi memaksa kita untuk membuang sampah itu. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Ada juga yang memilih menjual kembali barang itu dengan harga yang murah. Intinya: situasi jadi lebih lengang karena tak ada si sampah.

Dua hari kemarin saya dipaksa untuk membuang sampah-sampah elektronik. PC dan laptop sudah mulai gerah dengan data-data yang bejibun.

Dasar tidak tega main buang dan delete. Saya merogoh kocek lebih dalam buat belanja HD Eksternal 1 Tera. Itupun sudah saya beli mulai dari bulan lalu. Cukup menguras tabungan.

Yah, kalau tidak rela buang-buang barang memang harus ekstra usaha dan dompet. Misal nih gak tega buang sepatu, belilah lemari etalase yang lebih gede buat simpan menyimpan.

Ada satu perkara membuang dan menghapus yang saya tidak bisa. Apa? Kenangan. Aish, mulai deh.

Kadang ada beberapa memori yang sangat menancap di otak saya. Sedang beberapa yang lain tidak. Bahkan saya sekarang pun tidak ingat memori SD saya dulu. TK apalagi.

Hanya memori yang sangat menyenangkan dan sangat menyedihkan yang bisa saya ingat. Saking parahnya kadang saya nggak ingat temen-temen SD saya.

Namun, ada hal-hal yang saya ingin benar-benar delete permanently dari otak. Bukan kenangannya. Tapi perasaannya. Memori itu membawa cerita dan perasaan. Saya hanya ingin itu bertahan pada cerita untuk dikenang. Namun tak larut dalam rasa.

Ahh. ribet yah?

Sebenarnya kalau dianalogikan dengan fungsi program komputer, saya perlu jalanin repair system bukan delete permanently. Karena kalau delete itu artinya saya juga menghapus cerita dan perasaan dari memori.

Ditambah lagi tak ada HD Eksternal versi “live life” yang bisa jadi tempat backup sementara. Andai saja ada, saya nggak perlu repot kalau mau delete permanently. Bahkan tak perlu repair system, karena akan memakan memori jauh lebih banyak untuk di repair.

Tapi saya yakin sistem tubuh ciptaan Gusti ini akan bisa diatur tepat pada waktunya. Kapan melihat memori sebagai cerita saja atau sekadar perasaan.

Bukankah Dia yang Maha membolak balikkan perasaan sekaligus Maha Segala-galanya?

:)

Berujung Untuk Mereka

Tidak ada pertemuan karena kebetulan. Semua selalu ada alasan kenapa akhirnya kita dipertemukan.

Masih ingat saat aku tak sengaja menjatuhkan setumpuk berkas lamaran kerjaku. Ada kamu yang tiba-tiba sigap membantuku.

Antara terlihat bodoh dan ceroboh. Tak gampang memang buatku menghadapi orang yang jelas-jelas baru buatku. Termasuk kamu.

Jika dikira berlanjut bak sinetron yang kemudian saling bertukar nama dan pandang, tentu saja tidak. Ahh tetapi gadis mana yang tak berharap seperti itu, disaat ia single dan no job. nothing to do.

Antrian pencari kerja mulai menyesak. Pertemuan kita itu rasanya tak ada artinya. Sekadar lalu. Tenggelam diantara pekerja pejuang nasib untuk sesuap nasi.

Dan kejadian 2 minggu lalu itu seolah memang sebuah pengantar. Sekarang, kita sama-sama mempertaruhkan keyakinan untuk posisi di departemen yang sama. Departemen paling bergengsi, HRD. Untuk ukuran perusahaan yang bergerak di bisnis pertambangan ini tentu berat.

Rasanya sudah hampir muntah aku mengerjakan segala tes dan interviewnya. Tapi, untuk ukuran salary dan bertemu kamu kesekian kalinya. Itu setara. Lebih dari angka 7.

Masih melempar senyum. Tak banyak bicara. Entah mungkin karena hawa persaingan di departemen ini, semua jadi serba kaku.

Hingga tahap ini hanya tersisa enam orang. Posisi yang lowong hanya untuk tiga orang. Menganggur hampir tiga bulan membuatku penuh dengan pemikiran. Lanjut atau tidak.

"Minum?" tanyamu
“Boleh. Makasih” lanjutku sambil menerima sodoran Aqua gelas.
“Tegang yah, kurang tahap ini aja,”
Menghela nafasku. Dan mengutuk diriku kenapa aku bisa terlihat setegang ini.
“Iyah. Semua kayaknya menggantungkan hidupnya disini. Yah paling enggak aku lah. Kalau kamu?”
“Sama. Sapa juga yang gak pengen posisi disini. Cuman aku sedikit berat kalau harus ninggalin keluarga,”

Lelaki pecinta keluarga. Memang atas nama loyalitas pada karier, nggak jarang orang harus meninggalkan keluarga ibu bapaknya. Harus kuat mental.

Belum sempat kutanyakan asalnya. Ia lebih dulu dipanggil recruiter. Aku pun melempar senyum.

Yoga Himawan Putra. Nama lelaki itu. Nama yang juga mengingatkanku pada seorang sahabat masa kecil. Sayang itu bukan dia.

Jam sudah sore. Hampir seluruh peserta sudah beralih pulang. Hanya tinggal doa yang bisa dilakukan. Pengumuman akan berlanjut esok.

Perutku hampir melilit. Tapi, taksi tak kunjung nampak. Ahh tahu begitu aku terima tawaran tumpangan peserta lainnya.

Berjalan 10 menit, tampak resto cepat saji yang memanggil perutku. Ada Yoga disana.
“Hai..” sapaku.
“Eh kamu, mau makan juga?”
“Iyah. Gabung yah?”

Teriakan anak kecil menghampiri Yoga. “Ayaahh…”

Mengambil posisi duduk ditengah situasi seperti ini rasanya tidak enak hati.
Yoga seolah membaca geliatku.
“It’s ok fara. Gabung aja. Aldo salim sama tante Fara,”
“Halo.. Anak cakep” ujarku sambil tertawa. Secakep bapaknya batinku.

Aldo pun melanjutkan asiknya bermain. Aku? masih terpana. Yoga yang aku kira masih muda mengejar karir nyatanya sudah beranak satu.
Lagi-lagi, Yoga menangkap ketidakberesanku. Aku menatap Aldo terlalu lekat.

"Dia anak yang kuat. Istriku meninggal tepat dihadapannya. Menyelamatkannya dari tabrakan. Tak pernah kelihatan sedih. Aku justru takut kalau harus kehilangan Aldo gara-gara kerjaan. Makanya interview terakhir ini aku bawa dia. Aldo jadi semangat semua langkahku."

Rasa laparku hilang. Aku jadi malu sendiri. Aku pergi sejauh ini ke Jakarta. Ingin menciptakan impian. Meninggalkan semua yang nyaman di kota asal. Dan didepanku ada seorang single father yang tulus untuk anak semata wayangnya.

Dan kalau pun aku tidak lolos dalam departemen ini, terima kasih gusti kau pertemukan ku dengan Yoga dan Aldo.

Semua akhirnya akan berujung untuk orang-orang yang terkasihi, keluarga.

Menerjemahkan Sistem

Ahh manusia kapan sih pernah nurut sama sistem yang dibikinnya sendiri?

Suka bikin to-do-list tapi mendadak dilanggar sendiri? Yah sama kayak sistem kalo nggak ada yang kontrol.

Semua jadi percuma. Bener sih ada judulnya tapi kalau tidak ada kontrol atau minimal kesadaran dari user sistem itu yah percuma.

Kadang sistem juga merumitkan penggunanya. Atau sistem itu tidak ramah dengan penggunanya. Alhasil, butuh waktu lama buat menerjemahkannya. It takes time.

Sistem sewajarnya dibuat agar segala pekerjaan jadi lebih tertata dan runtun. Memudahkan untuk membacanya. Tapi, apa jadinya kalo itu sistem jadi malapetaka karena user sibuk menerjamahkan?

all of this shit called sistem :D

selamat menikmati sistem malam minggu.

Waktu itu Berjalan

"Waktu itu berjalan, za."

Dialog kecil saya dengan seorang single mommy yang tampak tegar didepan saya. Hidup memang nggak mudah. Dan itulah yang juga dibawa saat berjalannya waktu.

Beratnya hidup tiap orang sudah ada pos nya. Kadang ada yang masuk level beginner ada juga yang level advance.

Semua ada tantangannya. Tapi, waktu itu berjalan. Terus mengejar tak akan pernah habis. Jatahnya sama tiap hari, hanya 24 jam.

Waktu sama, usaha yang berbeda, level yang berbeda juga.

Dear, waktu berikan jalanmu yang tepat. :)

To Tumblr, Love Pixel Union