Now Playing Tracks

Engineering Man

Dan aku tidak pernah setakut ini. Tidak pada dia, tak juga padamu.

Memang benar apa kata orang, menakutkan sesuatu yang belum terjadi bisa saja semakin membuatnya terjadi.

Dua puluh satu jam yang lalu.

"Gimana kerjaan? beres semua?"

Mukaku yang kusut jadi pertanda kekhawatiranmu.

"Too much problems. Kayak kamu nggak tahu kelakuan kantor kita,"

Cream soup yang harusnya enak buat makan siang ini malah terasa hambar. Padahal biasanya ini jadi jagoan buat balik mood yang jungkir balik ini.

"Ya paham aku. Cuman setidaknya kamu sudah usaha yang paling maksimal,"

"Bisa ganti topik?" Potongku sekenanya. Dan kamu paham betul kenapa aku mendadak jadi paling sensitif kalau urusan begini.

Berada satu kantor denganmu dan curi curi jam seperti ini seharusnya menyenangkan. Tak ada persepsi yang abadi. Tapi setidaknya guilty pleasure ini jadi oase kerjaan.

Sejam berikutnya

Tumpukan work order menanti. Aku hampir tak bisa fokus untuk memeriksa deretan angka request dari departemen tenant. Obrolan tadi belum usai. Kenapa juga tadi aku malah bahas kerjaan, shit. Susah sekali nemu topik yang pas.

Read More

Not a Bad Thing

Pernah merasa seharian adalah bad day? Terlalu sering?

Terlalu mengutuk kadang tak terlalu baik. Memandang hal yang buruk kadang tak selamanya buruk.

Yang awalnya baik malah berakhir buruk. Semua yang diawali dengan buruk, Maha Kuasa menentukan akhirnya dengan indah, baik-baik saja. Entah baik menurut prasangka siapa.

Saya sendiri sudah berulang kali jungkir walik untuk urusan ini. Berawal dari yang grasah-grusuh akhirnya juga berakhir dengan indah. Kadang saya hanya perlu meyakinkan dan meluruskan persepsi bahwa semua akan baik-baik saja. Semua tak selalu buruk. Bahkan untuk urusan yang tampak remeh, hina, dan rendah sekalipun.

It’s not a bad thing if you go with the bad situation bad decision.

Manusia cuman perlu belajar dari hal-hal yang buruk untuk segera mencari solusinya. Kadang kita hanya perlu mempermainkan hal-hal yang buruk untuk menentukan akhir yang baik.

Apalagi bila itu usaha mati-matian kita. Persetan orang mau ngomong a sampai z. Don’t act like it’s a bad things. Mereka yang menang adalah sebagian orang yang tak malu mengakui usaha terburuk mereka. Sedih, menyedihkan sekali memang. That’s life. That’s you. This is me.

Live your life.

I know people make promises all the time
Then they turn right around and break them
Then someone cuts your heart open with a knife
Now you’re bleeding
Don’t you know that I could be that guy to heal it over time
And I won’t stop until you believe it
Cause baby you’re worth it

So don’t act like it’s a bad thing to fall in love with me

Not a Bad Thing -  Justin Timberlake

Always Standing

Terjatuh pun kamu masih bisa berdiri.

Dan meski semua raga telah lumpuh, masih ada yang membuat manusia bangkit.

Aku menyebutnya harapan.

Ada yang membuat orang lebih kuat dan lebih berbahaya.

Harapan yang beradu dengan gengsi. Dijatuhkan terlalu sering itu sakit.

Hidup selalu mengajarkan yang tak adil.

Kalau ini tak bisa mudah, tolong kuatkan harapan ini. Jalan didepan ini.

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

Skyscraper - Demi Lovato

Lawsonia Inermis a.k.a Mahendi atau sebutan populernya Henna. Era tahun 90an lebih heboh disebut pacar alias inai. Masih ingat, beberapa orang waktu itu terbatas memakai hanya di kuku. Eksplorasi sisi tangan hanya digunakan pada saat acara kultur/adat saja seperti pernikahan. CMIIW. Umumnya, hanya perempuan yang berperan jadi Henna Artist (Pelukis Henna). Barusan ketemu ini laki, that’s cool masbro. #HennaArtFest2014

City Landmark: Luxury Bridge Starts

Beberapa minggu lalu sempat membaca Jembatan Petekan diwacanakan akan ‘hidup’ kembali. Jujur, saya senang dengar kabar ini. Tapi, ambisi the next big things kota pahlawan ini amat banyak. Dan tinggal menghitung setahun saja, pergantian tampuk pimpinan kota Surabaya akan berubah. Tradisi negeri ini, ganti pemimpin ganti kebijakan dll.

Sementara Surabaya masih mencoba menghidupkan masa jaya lampau, beberapa kota di negeri nan jauh sudah beradu kejayaan city landmark-nya dengan konstruksi jembatan yang mewah. Menjanjikan suguhan artistik, mengakomodasi lebih dari sekedar penyambung dua titik lokasi yang jauh. Diantaranya malah beradu angka (Nilai investasi, angka konstruksi bangunannya, dll).

Canada

Glacier Skywalk

Yang barusan dibuka bulan ini misalnya ada jembatan di Kanada. Namanya Glacier Skywalk. Sesuai namanya Skywalk, jembatan ini seolah membawa Anda berjalan diatas langit. Seperti dilansir dari situs Telegraph jembatan yang berada di Jasper National Park ini memang konstruksi lantainya terbuat dari kaca. Jembatan ini berada diatas 918 kaki atau setara dengan ketinggian 280 meter. Pemandangan pegunungan di taman nasional pun jadi daya tarik lebih landmark kota ini.

China

China’s Undulating Bridge

China tak mau kalah dalam konstruksi pembangunan di tiap provinsi kota besarnya. Salah satu yang paling gres desainnya bisa dilihat dari jembatan yang meliuk-liuk ini alias Undulating Bridge. Jembatan ini pun saat ini masih dalam proses pembangunan. Sebenarnya jembatan yang dibangun diatas danau Meixi ini pun belum diberi nama resmi. Biasanya kalau negeri lain, sudah melansir namanya baru membangunnya. Tapi, lain dengan jembatan yang menyambungkan kota Changsa, Provinsi Hunan, China. Desain jembatan meliuk sebenarnya menawarkan level yang berbeda. Jangan dikira tiap level yang naik turun akan dilewati oleh kendaraan. Jembatan yang akan jadi landmark milik China ini menjadi jembatan pedestrian alias pejalan kaki. Panjang jembatan sekitar 150 meter dengan tinggi 24 meter. Shape luxury bridge negeri bambu ini pun katanya juga mengandung makna simbol tradisional Tiongkok. Di sekitar jembatan juga akan segera dibangun fasilitas rekreasi, wisata lingkungan, dan lainnya.

Thomas Heatherwick

Thames Garden Bridge

Masih juga wacana. Sungai Thames yang terkenal asal London ini, rencananya akan dibangunkan Garden Bridge diatasnya oleh sang arsitek, Thomas Heatherwick, yang di tahun 2012 lalu telah mendulang sukses karena membangun studio Olimpiade di London. Garden Bridge ini pun akan menjadi kawasan rimbun hijau dengan berbagai tumbuhan dan habitat alami yang menjadikan ini sebagai landmark jembatan hijau diatas sungai. Jika rancangan ini terwujud dan dilaksanakan, Thames Garden Bridge akan bisa dijajal di tahun 2017. Waktu yang singkat rasanya.

The Pont Jean-Jacques Bosc in Bordeaux

Pont Jean-Jacques Bosc

Terletak di Bordeaux, desain jembatan yang namanya cukup sulit ini dimenangkan oleh sekelompok arsitek, OMA. Jembatan yang menyeberangi sungai Garonne ini akan menghubungkan dua titik: Bègles dan Floriac. Jembatan ini semakin menarik karena dilansir dari situs milik OMA, semua kendaraan dapat diakomodasi termasuk para pejalan kaki. Jembatan yang rencananya rampung di 2018 ini juga dirancang memiliki area publik untuk festival hingga plaza dengan konsep overwater. Nice!

Sebenarnya masih banyak, kota di negara-negara maju dan berkembang yang mulai beradu eksotisme jembatan megahnya. Misalnya Doha dengan Sharq Crossing nya. Sedangkan di Porto, Portugal rencananya juga akan ada relokasi Maria Pia Bridge yang akan dipindahkan posisinya ke tengah kota dengan posisi lebih tinggi. Katanya proyek ini akan menelan biaya sedikitnya 10 juta Euro. Kira-kira kalau proyek Jembatan Petekan Surabaya habis berapa yah? Semoga konstruksinya tak jauh berbeda dengan mewahnya masa lampau. Asal tidak dicat warna-warni nggak jelas saja.

Atas Nama “Dua K”

Satu per satu teman mulai memilih untuk jalan hidupnya. Atau lebih tepatnya melanjutkan fase hidup berikutnya. Menjelang umur seperempat abad, perempuan mana yang tak galau. Ada fase galau di dua bidang hidupnya: karier atau kawin, (baca: Dua K).

Kenapa harus kawin, bukan nikah? Perbedaan definisi yang mendasar. Tapi, ijinkan saya pakai kata kawin. Biar lebih enak bacanya. Hahaha..

Hampir bisa dihitung teman seperjuangan, seumuran, seangkatan, sepermainan saya yang memilih untuk meniti kariernya atau sebaliknya membina rumah tangganya. Selalu ada kejutan saat satu persatu teman mulai naik kuade. Dan selalu ada cerita perjuangan dan keikhlasan saat satu persatu teman meningkat kariernya. Saya selalu senang mendengar ceritanya dan melihat ekspresi bahagia haru mereka.

Saya selalu bergumam, “gila, saya punya teman seperti mereka,” Mengejar apa yang sudah jadi pilihannya. Ikhlas menjalani serentetan kultur jelang perkawinan. Bahkan kontrak yang mungkin akan merenggut waktu mereka. Fase Dua K yang akan mengubah jalan hidup mereka. Minim waktu selfie.

Ada teman yang setelah menikah harus meninggalkan keluarganya. Pindah pulau, pindah negara mengikuti sang imam. Begitu pula yang meniti karier, melepas zona nyamannya di kota kelahiran. Pindah kota ibu tiri, kota perantauan. Yang lebih salut lagi, ada teman yang baru saja menikah, harus dipisahkan jarak atas nama karier keduanya yang memang beda lokasi. Walau sebenarnya kalau tebakan normal berlaku, salah satu pasti ada yang mengalah. Memang akhirnya harus ada keputusan yang lebih memberatkan dan harus segera dipilih.

Hingga saat ini pun, saya masih belum ada pandangan yang jelas tentang fase “dua k”. Menjalani semuanya dengan baik-baik saja. Maksudnya, mengerjakan semuanya dengan tuntas. Mungkin disini kelirunya saya. Banyak yang bilang, orang yang sukses adalah mereka yang punya gambaran konsep, visi, dan misi yang jelas. If you don’t know what do you want, you will get nothing in life. Hmm.. sebenarnya ini argumentasi saya sendiri. Tapi, memang benar kok. Ketika semuanya menjadi tidak jelas, akan bingung sendiri.

Namun, saya menikmati kebingungan ini. Kadang apa yang terlalu diambisikan dan diinginkan itu malah akan membunuh kita sendiri. Let’s say, mau nikah di usia 25 malah jadi beban sendiri. Yah, walaupun saya sendiri juga ingin. Tapi, tidak terlalu menuntut. Apa yang terbaik buat saya, Sang Kuasa yang lebih tahu. Skenario terkecil buat kita, saya yakin Dia punya. Yang penting ikhtiar tetap jalan.

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu


Tulus - Teman Hidup

Perah Marah Merah

Jujur, saya belum pernah melihat sapi diperah sampai merah. Katanya memerah susu sapi juga ada tekniknya. Sebenarnya kasihan juga kalau nonton tayangan sapi-sapi yang berjejer hanya untuk diperah air susunya.

Makan banyak cuman buat diperah. Untungnya si sapi nggak ngedumel kayak manusia -termasuk saya. Dikasih makan banyak, ujungnya diambil juga apa yang dikasih. Well, itu mungkin bedanya binatang dan manusia. Manusia punya sisi akalnya untuk memberontak bila diperah terlalu parah. Bahkan bisa marah. Binatang punya insting untuk berontak. Tapi, dibanding manusia akal yang dimiliki binatang jelas berbeda.

Kondisi yang parah hingga mengakibatkan mereka marah. Sesuai dengan insting alaminya, binatang akan bereaksi bila ia merasa terancam. Cara bertahan hidupnya akan ia keluarkan. Ancaman yang parah akan buat ia ‘marah’ mengeluarkan energi dan senjata khasnya. Mulai dari racun, gigitan, tanduk, dll.

Marahnya binatang seperti, bagaimana marahnya manusia? Barusan yang paling gress di tanggal 11/05/2014 lalu di Surabaya, ibu Walikota kebanggan pahlawan ini menunjukkan amarahnya gara-gara event es krim yang ‘menghancurkan’ beragam tanaman pedestrian dan jalan arteri. Bahkan ada tayangan live televisi yang merekam amukan verbal si ibu. Tayangan youtube nya juga tak kalah rame dibicarakan. Memang sih ibu Walikota ini tidak terkenal dengan arogannya. Tapi, cukup bikin kaget banyak orang pas reaksi si ibu ini marah. Mungkin publik juga tak banyak tahu didalam menjalankan tugasnya si ibu ini tak jarang menunjukkan kuasanya.

Marah bisa jadi salah satu aksi power seseorang. Ketika seseorang merasa berkuasa terhadap pihak lain, ia akan menunjukkannya salah satunya dengan marah. Posisi yang merasa dirinya tinggi dan benar, ia akan marah. Ketika semua orang merasa dirinya benar, tinggi, powerfull, dan merasa terperah sampai parah bisa jadi ia akan marah.

Marah itu perlu untuk meluruskan segala hal yang sudah mulai keluar dari koridornya. Marah juga membuat orang-orang yang nakal diluar sana tak lagi menganggap remeh.

Akhir-akhir ini saya disuruh marah. Catat disuruh! Padahal mana mau sih orang lagi nggak ingin marah-marah kok ini malah disuruh marah-marah. “Kamu sok sabar,” “Kamu harus marah” Duh, Gusti… Apa saya nggak punya power sampai akhirnya saya males buat marah? Apa saya sudah mati urat marah?

Bukan. Bukan saya nggak bisa marah. Tapi, batas toleransi saya masih ada. Kadang ada masalah yang masih bisa ditoleransi ada juga yang tidak. Nah, yang terjadi kotak masalah ini dinilai sudah diluar batasan toleransi oleh orang-orang yang menganggap saya harus marah. Toleransi saya masih panjang. Sebenarnya juga kalau bisa diselesaikan dengan baik-baik, marah tidak perlu. Bisa jadi marah malah memperkeruh.

Kalau term ‘marah’ terlalu kasar mungkin ‘teges’ bisa jadi pengganti. Teges dengan menggunakan intonasi yang ditekan dan memuncak. Yah, pada beberapa kasus marah dan negesi ini perlu. Supaya orang-orang itu tahu berhadapan dengan siapa yang tidak bisa mereka remehkan. Apalagi kalau sampai kita diperah sampai parah, maka marah sampai memerah juga perlu ada. Perlu dicatat juga, tak sedikit pihak yang bisa diajak berkompromi hanya dengan cara garis keras ini. Kata dosen saya dulu, know your audience.

Masih mau marah hingga wajah mengepul merah? Tunggu toleransi habis dan upaya telah diperah sampai parah. Sincerely, ME!

To Tumblr, Love Pixel Union